Minggu, Mei 04, 2008

t®ïĹœбτ “NING AISYA” d@£ÀM !kђTΊǻГ



  1. “Ning Aisya” dalam perspektif penulis

“Trilogi Ning Aisya” merupakan tiga sekuel bersambung yang menceritakan tentang penggalan kisah seorang putri kyai bernama Aisya Fahma Syarifa. “Ning Aisya” pada awalnya bukan ditulis untuk dikonsumsi publik. Ia hanya “pelarian” disebabkan kejenuhan mendalam saat saya menjalani PKL. Bahkan ketika iseng saya kirimkan ke LKiS, cerita mengenai Aisya ini masih “bersambung” (namanya juga iseng!), Ternyata keisengan itu mendapat respon positif bahkan mereka rela menunggu kelanjutan cerita sembari meminta saya untuk memangkas beberapa kisah karena cerita saya melampaui batas maksimal Penerbit MATAPENA (salah satu divisi LKiS). Akhirnya, saya putuskan untuk menjadikannya Trilogi. Dan proses revisi serta penggarapan sekuel 3 berlangsung kurang dari 10 hari.

Saya bersyukur, setelah saya kirimkan kembali (lewat email), mereka telaten mengedit tulisan dan memberikan saran-saran revisi yang memang saya butuhkan. Bagaimanapun -dikarenakan pengalaman saya di berbagai buletin kampus- saya lebih terbiasa menulis non fiksi ketimbang fiksi. Adalah sahabat saya, Hafidz Aziz yang pertama-tama meyakinkan saya bahwa saya bisa. Dan tentu saja, saya sangat berterimakasih untuk itu.

Tulisan ini menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal. Ais, Vidhis, Abah, Rina dan Regi (Regulus) merupakan tokoh sentral yang membangun Trilogi ini. Adapun plot secara kronologis, menggunakan plot cyclic (memutar). Dan sebagai koreksi diri, bentuk lay out buku ini kurang memberikan perbedaan yang mencolok antara setting waktu masa kini (Aisya kecelakaan pada 17 Agustus 2006 dan sembuh saat Ramadhan 2007) dan masa lalu (dari kelas 6 SD sampai 15 Agustus 2006), sehingga sedikit membingungkan pembaca. Perbedaannya hanya, ketika bicara masa kini (biasanya di awal dan akhir cerita) penamaan BAB nya tidak menggunakan identitas waktu (Titik Balik; Regulus; A Miracle; Amnesia; Selaksa Asa; Erlangga). Sedangkan ketika bercerita mengenai masa lampau, menggunakan identitas waktu (Agustus, penuh Haru; 1998, Saat Bunga Daisy Mulai Bermekaran; Agustus, Suka-Duka). Pada beberapa ketikan juga saya temukan kesalahan yang merupakan bukti bahwa saya maupun editor hanyalah manusia biasa.

Ya, ini merupakan tiga novel pertama saya yang notabenenya tak pernah mengenyam pendidikan sastra sehingga dengan segenap kerendahan hati dan permohonan koreksi, saya persembahkan ikhtisar Trilogi Ning Aisya ini kepada pembaca.

  1. Sekuel 1: Ning Aisya, Just Call Me, AURORA

Kisah ini dimulai saat semua orang sedang menunggu Aisya pulih dari pingsannya. Sayang, kabar mengenai sadarnya Ais direndengi dengan kenyataan bahwa dia amnesia. Semua orang terpukul, tak terkecuali Regulus Ahmad Al-Faqih yang akrab dipanggil Regi (sama dengan nama panggilan almarhum Regi teman SD Aisya). Demi membantu pujaan hatinya, Regi memberikan sebuah diary super tebal yang dibawanya dari Malang untuk membantu membangkitkan ingatan Ais. Bagaimanapun, usaha Regi masuk akal, karena Ais menulis setiap penggal kejadian dalam hidupnya di diary tersebut. Dan kisah yang bergulir pada bab selanjutnya, adalah hasil pembacaan Ais terhadap masa lalunya di diary tersebut. Yang dimaksud Aurora adalah Dewi Senja.

Aisya, terlahir dari buah cinta Kyai Syarif bin Kyai Dahlan dengan Bu Nyai Alia yang bertempat tinggal di Pondok Faradisassabil Kediri. Bersama ketujuh kakaknya, Ani, Hamid, Iqbal, Rifa’I, Lathif, Chalim dan Vidhis, Gadis berbintang Leo yang terlahir pada 20 Agustus ini bersahabat dengan Fifi yang imut, Putri yang jelita, Eka nan tomboy, si tangguh Jaya dan Regi (Regisiswanto) sang penghibur yang amat menyukai senja. Konflik dalam sekuel ini dimulai ketika pada hari ultah Ais yang ke 11, ia menerima kabar bahwa Regi mengalami kecelakaan dan abahnya melarang Ais untuk menjenguk Regi dengan alasan “sudah jam 8 malam, ini terlalu malam” meski waktu itu ada mobil, supir dan santri yang siap mengantar Ais ke RS. Karena dilarang keras, Ais hanya bisa mendekam dalam kamar sembari menanti datangnya pagi. Naas, pagi hari yang direncanakannya untuk menjenguk Regi berubah menjadi pagi paling suram di sepanjang kehidupannya kelak. Ia harus menerima kenyataan bahwa nyawa Regi tak tertolong. Dan semakin hancurlah hatinya manakala mengetahui bahwa perjalanan 10 Km yang ditempuh Regi dengan memakai sepeda pancal hanyalah untuk memberikan kado ulang tahun Ais yang telah dibeli dari hasil keringatnya sendiri.Dan pertengkaran pertamanya dengan abah terjadi. Ais merasa, andai malam itu dia ke RS, ia bisa menolong Regi dengan mendonorkan darah O nya kepada Regi yang memerlukan transfusi darah. Dalam pandangan Ais, abah adalah sosok tertuduh yang sulit dimaafkan.

Pada bagian selanjutnya, menceritakan segala kejadian saat ia duduk di bangku MTs. Kenakalannya, kecuekannya, kecerdasannya dan kekerasan hatinya semakin mengidentikkannya dengan Vidhis, kakak ketujuhnya. Ais menjuarai berbagai lomba dan eksis di dunia tulis menulis (ia menggunakan nama pena AURORA dalam setiap tulisannya lantaran kenangannya yang mendalam terhadap almarhum Regi), ia membuat peraturan keras mengenai ghosob, tawuran dengan anak kampung demi membela hak santrinya, hingga berinisiatif menyapu halaman pondok putra dan memakai baju kuning-kuning lantaran merasa bersalah telah menjadi provokator tawuran. Usai LPJ nya, sang mantan ketua OSIS Putri ini menggilas aspal Kediri bersama Vidhis, melakukan road race, bertemu dengan orang-orang nyentrik yang jenius, menjajal hingar bingar klub malam hanya demi menuntaskan diskusi mereka mengenai holisitas berpikir, hingga sebuah kecelakaan pada suatu ajang balapan membuat Abah sadar bahwa Vidhis yang notabenenya adalah imam masjid bersuara merdu, berotak cemerlang, fasih membaca kitab kuning, dicintai masyarakat tapi juga berambut gondrong, aktifis Mapala, taekwondo dan road race ini benar-benar mempengaruhi pola pikir dan tindak laku Ais.

Bagian akhir sekuel ini ditutup dengan ‘kembali ke realitas masa kini’, yakni ketika Vidhis menengok Ais di kamarnya, Ia melihat adiknya terlelap dan di sampingnya tersembul sebuah diary dengan pembatas buku (berarti Ais membacanya sampai pada bab itu). Dan betapa terkejutnya Vidhis saat mendapati tulisan Ais yang diberi judul besar “AIS TERLIBAT KASUS PENCURIAN!”

  1. Sekuel 2: Ning Aisya, Detektif Amatir

Sekuel 2 ini merupakan dibuka dengan mimpi buruk Ais yang membuatnya begitu emosional saat menyadari bahwa dirinya harus mengikuti hipnoterapi. Sekuel ini membawa pembaca (flash back) pada petualangan Ais dan Rina –santri yang disuruh Abah untuk mengawasi Ais- saat dipaksa mondok oleh Abahnya di PP. Al Hijroh Bantul Jogjakarta pimpinan Kiai Zehen. Petualangan ini tentu saja, berdasarkan apa yang dibaca Aisya di diary-nya.

Pangkal Agustus 2001, Ais dan Rina terlibat dalam pembongkaran kasus pacaran yang dilakukan oleh Shinta sang kordinator Sie Keamanan Pondok. Mereka tak terima dengan perlakuan Shinta yang semena-mena terhadap santri baru. Suatu pagi, mereka mencuri dengar pembicaraan Shinta dan kekasihnya, Ikang yang membuat janji di Malioboro. Tak pelak, ini membuat Ais dan Rina berupaya menyelidiki hingga ke Malioboro dan Pasar Beringharjo. Mereka juga bersekongkol membuat kegaduahn dengan menyelinap ke kamar Keamanan dan Ais berhasil menyita surat-surat Ikang sebagai bukti bahwa Keamanan terkadang justru perlu diamankan. Dengan segala bukti yang terkumpul, skak mat, Shinta mendapatkan ganjaran atas perbuatannya.

Gaya sok detektif ala Aisya berlanjut saat bulan Oktober di tahun yang sama ia dan Rina melihat aksi pencurian yang dilakukan Laras, sang abdi ndalem. Laras berhasil membuktikan bahwa dia melakukan semua ini karena terpaksa, sehingga Ais berbaik hati tidak melaporkan bahkan mengganti semua uang yang pernah dicuri Laras dan menyerahkannya pada Titik, sang ketua pondok. Keganjilan mengenai dkembalikannya uang yang dicuri tanpa kejelasan siapa yang mencuri memantik kecurigaan beberapa orang yang membenci Ais hingga ia pun difitnah, diadili dan dihukum, Meski demikian, Ais tak pernah mau membongkar aksi Laras. Namun, kuasa Tuhan bermain di sini, Laras nekat mengaku karena tak tahan akan hukuman yang diterima Ais dan Rina, padahal keduanya tak melakukan kesalahan apapun. Dan bukti-bukti yang kemudian muncul, semakin melemahkan tuduhan terhadap Ais dan justru mengungkap siapa dalang di balik pemfitnahan itu adalah Karen, sepupu Shinta. Hal ini membuat Ais miris, betapa, di paruh pertama kehadirannya di pondok itu telah menyeret tiga orang (Shinta, Karen dan tentu saja Laras) keluar dari pondok salaf tersebut. Di penghujung 2001, Ais berupaya menanggulangi kasus lesbian di Al Hijroh. Februari 2002, Ais mengusulkan perubahan besar-besaran pada struktur dan pola pengajaran di Al Hijroh yang ternyata direspon baik oleh para pengasuh. Pada Agustus 2002, Ais terpilih sebagai ketua pondok yang semakin melempangkan jalannya untuk membuat gebrakan-gebrakan baru dalam setiap agenda kepengurusannya. Meski, tak lama kemudian, sosok Ning Zulaikha muncul dan perseteruan akibat sikap hipokrit Zulaikha menuntut Ais -sekali lagi- menunjukkan taringnya

Sekuel ini ditutup dengan munculnya Erlangga (Elang) yang membawakan sebuah album berisi foto-foto mesranya bersama Ais. Siapa sebenarnya Elang? Jawaban segala masalah dan awal dari segala masalah akan terjawab di sekuel 3.

  1. Sekuel 3: Ning Aisya, Soulmate 4 ever

Sekuel ini diawali dengan keputusan dokter untuk melakukan operasi pengangkatan timbunan darah. Alhamdulillah, operasi itu berhasil dan Ais kembali mengisi hari-harinya dengan membaca diary yang kini telah sampai pada fase saat ia menjalani muwadda’ah (perpisahan).

Ais sangat terkejut saat mendengar cerita Chalim (kakak keenamnya) bahwa Vidhis kabur dari rumah karena ia jatuh cinta pada Rose, mantan pelacur yang dikenalnya sewaktu kelas 3 MTs. Ais yang seyogyanya mempersiapkan diri mengikuti SPMB itu malah sibuk mencari kakaknya. Setelah ditelusuri, ternyata Rose memang tak lagi menjadi pelacur. Bahkan ia sudah berjilbab dan menjadi guru ngaji. Yang membuat Ais miris, Rose meninggal dalam sebuah kecelakaan akibat menolong murid TPQ nya. Kejadian menyedihkan ini direndengi dengan sakitnya sang kakek, Kyai Dahlan dan terpukulnya abah yang menyebabkan beliaupun dirawat di RS. Namun, kejadian beruntun ini membuat Abah Syarif sadar, bahwa dirinya terlampau otoriter.

Fase selanjutnya dilalui Ais saat ia menjadi pembangkang dalam OSPEK yang diselenggarakan kampusnya. Di sana, ia bertemu Regulus (yang juga dipanggil Regi dan ini mengingatkan Ais pada Regi kecilnya) sang ketua panitia OSPEK yang begitu santun, kalem dan agamis. Keduanya menjadi dekat karena mereka sama-sama aktifis dan mengajar di TPQ yang sama. Regi mengajari Ais banyak hal dan semua ini membuatnya jatuh cinta pada sosok Aisya. Sayang, keterpurukan ekonomi dan sakitnya sang ibu membuatnya harus cuti kuliah selama 1 tahun. Untungnya, ia sempat mengaku pada Ais mengenai perasaannya meski akhirnya ditolak oleh Ais. Sepeninggal Regi, Ais bertemu dengan Elang yang tampan. Mereka akhirnya jadian, dan Ais mulai menikmati ’dunia baru’nya. Sebagai aktifis dan orator, dia sangat disegani. Sebagai ustadzah dan perempuan yang suka membantu, ia amat disukai. Dan sebagai Aisya, ia dicintai banyak lelaki. Segalanya menjadikan Aisya berada di dunia yang kompleks, yang tidak hanya dilaluinya dengan jubah putih terkadang juga abu-abu. Hingga kematian kedua saudaranya, Iqbal dan Lathif, membuatnya sadar dan segera memutuskan hubungannya dengan Elang. Di rumahnya, ia bertemu lagi dengan Regi yang terhenyak mendengar pengakuan Ais mengenai banyak hal.

Pada 15 Agustus 2006, Ais menulis di diary nya mengenai makna kemerdekaan. Esoknya, ia pulang ke kediri agar bisa merayakan 17 Agustus di Masjid Agung bersama seluruh keluarganya –kecuali Vidhis yang sedang mengisi acara di Jakarta- dan meninggalkan diary nya di kos. Pada hari kemerdekaan itulah, tanpa diduga sang ummi ketinggalan obat yang harus segera diminum. Ais menawarkan diri untuk mecari apotik dan ditemani oleh Rifa’i yang tambun. Ais tak sabar menunggu Rifa’i dan dengan semangat yang berlebihan, ia berlari menembus lautan manusia dan jalanan yang padat kendaraan. Lalu...kecelakaan itu terjadi. Ais bersimbah darah, ia lalu mengalami amnesia. Inilah yang membuat Ummi selalu merasa bersalah.

Di akhir cerita, Elang dan Regi bekerjasama mengumpulkan semua teman Ais mulai dari masa kecilnya. Ais yang sudah berangsur-angsur membaik daya ingatnya (sudah setahun lebih sejak ia mengalami kecelakaan itu) harus kembali menginap di RS. Dan..keajaiban terjadi! Segala ikhtiar pengobatan dan terapi yang beraneka ragam setahun belakangan ini membuahkan hasil. Ais bisa terbebas dari amnesianya!

Selanjutnya, ia dihadapkan pada pilihan, Regi atau Elang kah yang akan dipilihnya sebagai pendamping hidup? Jawabannya bisa dibaca di novelnya. Ok!!!

  1. Penutup

Novel ini pada dasarnya adalah novel yang banyak mengkritik tradisi pesantren dan kejumudan yang kadang melingkupi alumni pesantren. Atas dasar itulah, saya menulis trilogi ini. Sungguh, saya mengharapkan ada aliran kebaikan dan perbaikan setelah membaca karya ini.

Semoga ada manfaat untuk semuanya..

FEMINISME, REKONSTRUKSI NALAR DAN KEBANGKITAN HOLISTIS

FEMINISME, REKONSTRUKSI NALAR DAN KEBANGKITAN HOLISTIS

By: Nisa’ul Kamilah Chisni*

A. Historisitas Feminisme Global

Sejatinya, Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai Universal Sisterhood. Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama.

Feminisme, sebagai ruh gerakan perempuan, dapat diberi pengertian sebagai “Suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja, dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut”. Menurut definisi ini, seseorang yang mengenali adanya sexisme (diskriminasi atas dasar jenis kelamin), dominasi lelaki, serta sistem patriarki dan melakukan sesuatu tindakan untuk menentangnya, adalah seorang feminis.

Ide-ide feminisme menjadi isu global semenjak PBB mencanangkan Dasawarsa I untuk Perempuan pada tahun 1975–1985. Sejak itu, isu-isu keperempuanan mewabah dalam berbagai bentuk forum baik di tingkat internasional, nasional, regional, maupun lokal. PBB di bawah kendali Amerika Serikat jelas sangat berkepentingan dan berperan besar dalam penularan isu-isu tersebut, baik dalam forum yang khusus membahas perempuan —seperti forum di Mexico tahun 1975, Kopenhagen tahun 1980, Nairobi tahun 1985, dan di Beijing tahun 1995— maupun forum tingkat dunia lainnya, seperti Konferensi Hak Asasi Manusia (HAM), KTT Perkembangan Sosial, serta KTT Bumi dan Konferensi Kependudukan.

Hingar bingarnya isu-isu feminisme tersebut melahirkan beraneka respon dari berbagai pihak di Dunia Islam, di antaranya ialah semakin banyaknya para propogandis feminisme baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintah maupun LSM-LSM. Feminisme yang aslinya merupakan derivat ide sekularisme atau sosialisme itu, akhirnya menginfiltrasi ke dalam Dunia Islam. Maka tersohorlah kemudian nama-nama feminis muslim semisal Fatima Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Amina Wadud Muhsin (Malaysia), serta Didin Syafrudin, Wardah Hafizah, dan Myra Diarsi (Indonesia). Secara kelompok, di Indonesia khususnya dapat disebut beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan dan sebagainya.

B. Realitas Gerakan Perempuan di Indonesia

* Disampaikan dalam Diskusi GREGET, Yogyakarta, 29 Desember 2007

Dalam berbagai diskusi sejarah gerakan perempuan Indonesia, biasanya menyandarkan diri pada tokoh Kartini, yang disebut-sebut sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Walaupun kepahlawanan yang dilabelkan kepada Kartini pantas untuk diragukan. Bukan saja ia tidak melakukan apa pun kecuali hanya imajinasi semata-mata, tetapi ia sendiri bersedia menjadi istri dari laki-laki yang sudah beristri. Menguatnya kajian gerakan perempuan bersandar pada Kartini, setidaknya karena ia meninggalkan written text, yaitu surat-surat yang ditulisnya dan lalu diterbitkan dalam sebuah buku yang amat terkenal, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Berkaitan dengan buku di atas, tidak sedikit pula para ahli yang menyangsikan keasliannya sebagai karya asli Kartini.

Kajian lain justru menunjukkan, tokoh seperti Dewi Sartika, sebenarnya jauh lebih jelas melakukan tindakan-tindakan aksi ketimbang Kartini yang tidak pernah melakukan apa-apa.

Dewi Sartika mendirikan sekolah pertamanya pada tahun 1904 dengan nama Sekolah Istri dan selanjutnya diubah menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Hingga tahun 1912, Dewi Sartika telah mendirikan 9 sekolah, jumlah yang mencapai 50% dari keseluruhan sekolah di Pasundan.

Kecurigaan sebagian peneliti terhadap written text Kartini itu, setidaknya bersandar pada kemungkinan adanya keinginan Belanda untuk membuktikan keberhasilan politik etis, dengan dibukanya peluang-peluang bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Sebab, semangat pendidikan di Indonesia akibat politik etis—sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, tetapi lebih untuk menunjang terselenggaranya pemerintah Hindia Belanda. Mereka yang telah mendapatkan pendidikan dimaksudkan agar bisa dapat bekerja di kantor-kantor pemerintahan Belanda. Sudah pasti, kebanyakan hanya menduduki jabatan pegawai rendahan. Tetapi, menurut Sukanti Suryochondro, setidak-tidaknya, meski tidak secara langsung, kebijakan politik etis telah membangkitkan semangat di kalangan kaum perempuan untuk bergerak dan berjuang mendapatkan persamaan hak pendidikan bagi perempuan. Buah dari semangat ini, berdirilah, salah satu organisasi perempuan yang kelahirannya memang mendapat dukungan dari Boedi Oetomo (organisasi laki-laki). Dalam perkembangannya, Poetri Mardika pernah mengajukan mosi kepada Gubernur Jenderal pada tahun 1915 agar perempuan dan laki-laki diperlakukan sama di muka hukum.

Setelah lahirnya Poetri Mardika (1912), banyak perkumpulan perempuan baik yang didukung oleh organisasi laki-laki maupun yang terbentuk secara mandiri oleh perempuan sendiri. Sebut saja misalnya, Pa­wiyatan Wanito (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Ma­na­do, 1917), Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poteri Boedi Sedjati (Su­ra­baya, 1919), Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta, 1920), Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi, 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta, 1924). (Sukanti Suryo­chondro: 1995). Dalam catatan sejarah, hampir setiap organisasi perempuan ini, menerbitkan majalah mereka sendiri sebagai media untuk membentuk opini publik sehingga gagasan-gagasan mereka terkomunikasikan ke dalam masyarakat luas.

Gerakan nasionalisme juga berkobar di kalangan organisasi perempuan, dan pada tang­gal 22 Desember 1928, diadakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Kongres ini melahir­kan semacam federasi organisasi perempuan dengan nama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dan pada tahun 1929, setahun setelah terbentuknya, diganti menjadi Peri­kat­an Perkumpulan Istri Indonesia (PPII). Pada awal berdirinya, upaya-upaya yang dilakukan adalah perhatian pada lingkungan keluarga dan masyarakat, kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan (Islam), pendidikan dan perlindungan anak-anak, pendidikan kaum perempuan, perempuan dalam perkawinan, mencegah perkawinan anak-anak, nasib yatim piatu dan janda, pentingnya peningkatan harga diri perempuan, dan kejahatan kawin paksa. Perhatian ini meluas, misalnya, pada tahun 1935 dibentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Kaum Perempuan—salah satunya rapat umum untuk perempuan buruh batik di Lasem Jawa Tengah, membentuk Badan Pemberantasan Buta Huruf, Badan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak.

Perkembangan gerakan perempuan semakin maju, ketika dalam Kongres Perempuan II, Maret 1932, isu nasionalisme dan politik muncul, selain soal perdagangan peremuan, hak perempuan dan penelitian keadaan sanitasi di kampung serta tingginya angka kematian bayi. Ki Hajar Dewantara, dalam pidatonya mengatakan, sangat terkesan dengan perjuangan feminis di Turki, Cina, Persia, dan India, yang memberikan kontribusi sangat besar bagi suksesnya perjuangan nasional di negara mereka. Dua tahun sebelum Kongres II ini, pada tahun 1930, Suwarni Pringgodigdo, mendirikan organisasi perempuan yang aktif dalam perjuangan politik, yaitu Istri Sedar di Bandung dan menerbitkan jurnal Sedar. Perjuangan lain, adalah upaya gerakan perempuan untuk menentang poligami yang dipandang merugikan perempuan. Pada tahun yang sama dengan berdirinya Istri Sedar tahun 1930-an, para aktivis perempuan dalam Sarekat Rakyat mengorganisasikan demonstrasi politik untuk buruh perempuan dengan tuntutan kenaikan upah, kesejahteraan buruh dan keselamatan kerja. Salah satu aksi yang paling mencolok, sebenarnya justru demonstrasi yang dilakukan sebelumnya, yaitu pada tahun 1926 di Semarang yang menuntut perbaikan kondisi kerja bagi buruh perempuan, dengan memakai caping kropak. Selama pembrontakan komunis pada tahun 1926 banyak perempuan ditahan bukan hanya karena mereka membantu suami mereka, tetapi juga karena aktivitas mereka sendiri. Bersama dengan laki-laki, banyak perempuan yang diasingkan ke Boven Digul, sebuah kamp konsentrasi Belanda di Irian Jaya. Sukaesih dari Jawa Barat, dan Munasiah dari Jawa Tengah termasuk di antara perempuan-perempuan tersebut. Pada Kongres Perempuan III, setelah melakukan pembubaran PPII, mulai dimunculkan isu tentang hak suara perempuan. Perempuan terus memperjuangkan hak politik atau keterwakilan perempuan, dengan memperjuangkan Maria Ulfa menjadi anggota Volksraad, meskipun gagal. Maria Ulfa kemudian terpilih menjadi menteri Sosial pada Kabinet Syahrir II (1946) dan S.K. Trimurti menjadi menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947-1948). Pada pemilu 1955, gerakan perempuan Indonesia berhasil menempatkan perempuan sebagai anggota parlemen.

C. Rekonstruksi Nalar dan Kebangkitan Holistis

Berdasar realitas di atas, dapat diambil sebuah konklusi bahwa gerakan perempuan sudah mencuat sejak zaman beheula. Tapi, benarkah ‘angin’ kesetaraan ini juga berhembus dalam setiap pikiran kaum perempuan Indonesia? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK. Kenyataannya banyak perempuan yang merasa cukup dengan peran-peran domestik, dapur, sumur, kasur atau masak, macak, manak. Kesalahan yang terjadi dalam konteks ini tentu saja adalah dalam mainstrem perempuan yang diakui atau tidak telah terkonstruk oleh budaya, pendidikan bahkan dalam tataran kebijakan politis. Salah satu aliran dalam Feminisme, yakni Feminisme Poskolonial yang intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan, “hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan pendidikan” inilah yang mengakibatkan adanya ‘kolonialisme’ pada perempuan.

Kesadaran diri yang rendah akan kebutuhan eksistensi diri pada mayoritas perempuan Indonesia telah mendorong kejumudan peran perempuan hanya pada wilayah domestik. Ini bukan berarti bahwa peran domestik adalah hal yang inferior dan tidak urgen. Melainkan, perlunya satu nalar baru pada setiap perempuan bahwa mereka sama sekali bukan makhluk yang ditakdirkan HANYA untuk urusan-urusan rumah tangga belaka. Penanaman satu nalar kesetaraan akan berimplikasi pada tingginya kesadaran perempuan akan harkat, martabat, potensi dan sekaligus kekurangan mereka.

Rekonstruksi nalar, menurut hemat penulis, adalah satu hal mendasar yang harus dilakukan oleh pengusung feminis bila menginginkan setiap perempuan di belahan bumi manapun mampu menyadari tentang ke-diri-an perempuan. Tanpa satu kontruksi yang mencerahkan nalar, maka selamanya perempuan akan terkungkung dalam sikap inferior, merasa tidak berdaya, merasa tidak bisa menyaingi peran laki-laki dan sebagainya. Pembaharuan gerakan perempuan bisa dilakukan melalui beragam cara tergantung pada status sosial, latar belakang pendidikan, kondisi lingkungan ataupun tradisi dimana perempuan tersebut tinggal dan berkiprah. Sebagai contoh, dalam tradisi pedesaan, perempuan di daerah agraris tidak bisa dicekoki dengan nalar yang mengetengahkan isu mengenai perempuan yang semestinya melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi terhadap laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan daerah agraris yang minim pendidikan masih mengandalkan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga. Rekonstruksi nalar yang bisa diterapkan pada perempuan agraris semisal dengan memberikan pengarahan bahwa mereka juga berhak mengenyam pendidikan yang sama dengan laki-laki. Apabila pemahaman ini sudah internalis, maka kemungkinan besar perempuan desa akan terberdayakan dan secara bertahap akan menjadi kaum terdidik yang seiring dengan kualitas pendidikan yang membaik akan membentuk pola pikir dan tindak laku yang lebih konstruktif.

Jika ada 30% saja perempuan di dunia ini terberdayakan dan memiliki kualitas yang mumpuni, penulis yakin perempuan-perempuan ini akan mampu mengendalikan dunia. Namun, pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekas koloni) berbeda dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama. Perempuan dunia ketiga menanggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami pendindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama. Oleh karenanya, kebangkitan holistis (menyeluruh) menjadi satu agenda wajib bagi setiap pengusung feminisme dan gerakan perempuan. Kebangkitan holistis pada gerakan perempuan tidak boleh hanya berkutat pada diskursus-diskursus yang sarat bahasa-bahasa ilmiah saja. Namun lebih tepat jika perempuan-perempuan aktifis melakukan gerakan yang lebih membumi semisal membiayai pendidikan perempuan tertinggal, mengadakan penyuluhan gender di daerah-daerah serta pendampingan yang serius pada setiap kasus KDRT yang menimpa perempuan. Belum lagi kasus trafficking, kekerasan pada TKW, dan eksploitasi perempuan yang belum kunjung tuntas.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita –yang notabenenya adalah aktifis perempuan- sudah melakukan gerakan yang mampu membangkitkan semangat pembaharuan dan semangat kemajuan pada perempuan-perempuan lain di sekitar kita?

Atau jangan-jangan, kita masih menjadi oknum yang tertindas tanpa kita sadari?

SAHABAT, Diperlukan sebuah keberanian dan potensi besar untuk menggugah keyakinan bahwa kita –kaum perempuan yang terdidik- adalah ujung tombak dari perjuangan menuju kebangkitan holistis. Ingat, perempuan bukan makhluk lemah, sub ordinat, inferior dan tak berdaya. Bangkitkan semangat, pompa keberanian, galilah segala potensi, dan sandarkan segalanya atas nama Tuhan, maka tak lama kemudian kita –atas izin Nya- akan menjadi aktor dalam mengawal perubahan ini!

Wallohu A’lam.

Selasa, April 08, 2008

Sehari bersama Ummu Hani, penulis Malaysia


Hallo, aku Camilla Chisni. Aku ada sedikit cerita mengenai kedatangan Ummu Hani pada hari senin, 7 April 2008 kemarin....Nih!

Jam di kos-ku sudah menunjukkan pukul 08.45 saat aku tergopoh-gopoh ke Fakultas Adab. Uff, untungnya Ummu Hani Abu Hasan, penulis novel Ladang Hati Mustika dan Mangku Tempurung Nenek berkebangsaan Malaysia ini belum menapakkan kaki di Fakutas Adab. Sembari menunggu, aku berbincang ria dengan beberapa teman dari Sanggar Nun. Tepat pukul 09.30, Ummu Hani beserta rombongan mulai menapaki lantai Adab. Dekan fakultas Adab; Pak Syihab, yang pagi itu didampingi oleh kritikus sastra, Pak Bahrum, menyampaikan luapan kegembiraannya atas kedatangan Ummu dan rombongan serta pada pihak LKiS yang turut hadir. Tak selang berapa lama, Ummu pun dipersilakan untuk bercerita mengenai novel sekaligus perkembangan dunia penulisan Malaysia.

Penulis berusia 25 tahun ini menjelaskan bahwa di Malaysia, para penulis amatlah dihargai, kesejahteraan mereka pun tercukupi. Bahkan bagi mereka yang masuk dalam penulis Perpustakaan Negara, mendapat kehormatan selayaknya Gubernur. Perhatian Pemerintah Malaysia dalam hal penulisan, baik karya sastra maupun akademik, dibuktikan dengan digulirkannya beberapa kebijakan, semisal: Sejak masih belia, anak-anak yang tampak berbakat di dunia tulis menulis diberi pelatihan gratis oleh pemerintah. Mereka di drill untuk mampu memperbaiki kualitas tulisan mereka di sebuah Sanggar Penulisan. Selain itu, pemerintah Malaysia juga menetapkan beberapa buku yang wajib dibaca oleh semua lapisan murid, dari SD hingga SMA. Beberapa karya yang pernah diwajibkan oleh pemerintah Malaysia adalah karya-karya Pramudya Ananta Toer.

Pada diskusi yang di translate ke dalam bahasa Indonesia oleh Saifullah Kamalie, kandidat doktor dari Universitas Malaya, para peserta diskusi tampak antusias. Diantara jajaran peserta diskusi, ada Abidah El Khaliqy dan Hamdi Salad, dua orang sastrawan terkemuka di Indonesia. Diskusi ini pun semakin lengkap dengan kehadiran Isnainiah, dosen jurusan Dakwah STAIN Surakarta yang merangkap sebagai pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Solo dan kawan-kawan dari Sanggar Nun. Pada diskusi tersebut, muncul beragam pertanyaan maupun statement. Misalnya yang diungkap oleh Abidah, dia mengatakan bahwa sastra di Malaysia cenderung mengapresiasi Islam dalam tataran normatif, belum pada tataran penafsiran holistik. Hal ini mengakibatkan munculnya proteksi-proteksi yang berlebihan terhadap karya sastra. Kondisi yang terjadi di Indonesia amat berbeda dengan hal tersebut. Sastra Indonesia melaju pesat dalam berbagai genre, ideologi maupun segmentasi. Aku sendiri berusaha menegaskan urgensi sebuah karya sastra lintas negara. Hal ini bisa direalisasikan dalam sebuah antologi cerpen yang menghimpun karya-karya terbaik dari tiga negara berbasis Melayu, yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia. Harapanku, hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia yang meruncing dalam tataran politik praktis bisa diminimalisir melalui forum-forum sastra yang mewadahi dan merespon problematika negeri dalam bentuk karya-karya bermutu.

Tak terasa, matahari sudah mencapai tahtanya saat diskusi berakhir. Pada dentang 12.30, dengan dua mobil yang disediakan Fakultas Adab, Ummu beserta rombongan, aku, serta dua kawan dari Sanggar Nun, Yudin dan Hadi, berangkat menuju basecamp LKiS. Sesampainya di sana, kami semua disambut oleh para punggawa LKiS dan teman-teman Penulis Matapena seperti Sachree M Daroini, Zaki Zarung dan Pijer. Beberapa pertanyaan pun muncul, seperti yang ditanyakan Zaki mengenai proses kreatif novel dan bagaimana proses pembinaan tulis menulis di Malaysia. Mbak Retno mempertanyakan mengenai bagaimana bentuk apresiasi pemerintah terhadap penulis dan karya sastra. Pertanyaan tidak melulu dari kawan-kawan LKiS ke Ummu. Ummu pun banyak bertanya mengenai penerbitan di Indonesia, terutama yang sedang dilakoni kelompok penerbit LKiS.

Yup, guyuran hujan dan lecutan petir merendengi keasyikan diskusi yang diakhiri pada pukul 13.40 ini. Usai diskusi, rombongan tidak langsung pulang karena hujan deras. Setelah ditunggu sekian lama dan hujan tak kunjung reda, kami nekat pamitan dan sedikit demi sedikit laju mobil mulai menjauh dari basecamp LKiS.

Tak berselang lama, demi meredam nyanyian perut yang sedari pagi belum disuplai, kami mampir ke Ayam Bakar Wong Solo.

Uhh, nikmatnya nasi gratisan... ^_^

Jarum jam tepat di angka 4 saat rombongan Malaysia mulai berhenti melempar joke dan menyalami kami satu persatu.

Ah, tinggal aku, Yudin, Hadi dan Pak Sopir sekarang...

”Eh, tadi buku yang dikasih Matapena nggak kubawa ya?” Aku baru ingat!

Yudin meringis, ”Kayaknya ketinggalan di LKiS, Mbak!”

Sudah begitu, belum sempat tarik nafas dua kali...

”Hey, ini jalan menuju rel Timoho kan?” Wajahku mendadak pucat.

Temen-teman Sanggar Nun mengiyakan dengan nada khawatir. ”Mang kenapa lagi Mbak?”

Sembari menjinjing tas, aku berkata terburu ke Pak Sopir, ”Turun di depan aja, Pak. Mila harus les Bahasa Inggris nih. Kelupaan! Telat lagi!”

”Hahahahaa....” Kawan-kawan Sanggar Nun malah menertawakan muka pucat dan sifat pelupaku. Uuuh!

BY: CAMILLA CHISNI

Tak ada kesempurnaan yang instan, semua membutuhkan proses dan perjuangan